Menjadi Pengajar Dadakan

abdul fattah ikhsan
3 min readMar 17, 2019

Ceritanya menjadi expert di Xploring JS by Xcidic

Sesi foto bersama di hari terakhir kursus

Kali ini saya akan cerita-cerita pengalaman menjadi pengajar dadakan. Kenapa kok disebut dadakan? Ya, karena planning acara ini tuh mepet, ada project yang mesti dipegang dan belum pernah ngajar dengan waktu 10 hari / 2 minggu (cuma pengalaman ngajar workshop 2 kali), ditambah lagi pesertanya mayoritas umum alias ga ada latar belakang ngoding.

Nervous nya sangat berasa di hari pertama, gimana ngga? lah saya merasa ada beban, dalam waktu 10 hari peserta harus bisa koding dan memang golnya dari kursus yang diselenggarakan itu. Yang saya lakukan sebelum hari H adalah menyiapkan materi presentasi dari silabus yang udah ada, kemudian bikin latihan-latihan apa yang harus diberikan setiap harinya dan terakhir bikin lesson plan setiap harinya. Ini penting untuk suksesnya sebuah kursus.

Hari pertama

Pake pengeras suara portable, takut suara ga keluar saat nyanyi, eh.. saat berbicara di depan. Berasa kayak satria baja hitam aja, sayangnya ga ada foto selfie nya sih dan untungnya juga ga ada 😄. Biasa awalnya perkenalan kemudian masuk kepembahasan ringan tentang html dan css. Hari pertama juga sangat crusial karena first interest untuk hari-hari selanjutnya. Maka saya mencoba membaca situasi dan melihat seberapa cepat tangkap kemampuan para peserta. Hampir semua peserta adalah orang umum bahkan dah berumur, cuma 1–4 orang aja yang masih pelajar/mahasiswa. Saya mencoba ngasih mereka tantangan-tantangan yang mengharuskan mereka mencari sendiri di internet. Guna membangun self learning tanpa bantuan orang lain. Pas masuk pembahasan tentang variable / peubah di javascript. mulai terlihat wajah-wajah bingung. Terutama ketika di kasih tugas-tugas, makan waktu lama.

Hari selanjutnya (2), saya masih pake metode lama membahas secara garis besar melalui presentasi, contoh simple kemudian tugas dengan self learning. Tapi sebelum itu saya recap pembahasan hari sebelumnya. Dan masih sama makan waktu lama buat mengerjakan tugas yang diberikan. Dan wajah mereka masih bingung. Oh ya, udah ga perlu pake speaker portable lagi. Yeay 🎉.

Hari ke 4, saya memutuskan self learning gagal!. dan mulai menggunakan cara yang bisa mereka tangkap dengan penjelasan gamblang dari kehidupan sehari-hari. Dan cara ini sukses, terlihat wajah mereka berbeda dari hari sebelumnya (lebih bersinar) 😁, gimana cara berpikir dan implementasi ke suatu bahasa program (JavaScript). Tapi masih lama mengerjakan tugas-tugas.

Hari Terakhir

Menjelang hari terakhir, saya ngasih tugas kelompok, guna mengasah kemampuan bekerja dalam tim. Di tunjuklah ketua yang dinilai memiliki kelebihan dari yang lain. dan hasilnya memuaskan tapi kerja kelompoknya ga memuaskan, karena ketuanya lah yang kerja 😆. Ini dia hasil-hasil kerja mereka kelompok 1 dan kelompok 2.

Satria baja hitam

Akhir Cerita

Banyak hal tak terduga saat mengajar berlangsung, butuh improvisasi dan evaluasi setiap harinya. Setiap malam setelah mengajar atau pagi sebelum berangkat saya merevisi, menambahkan dan membuat tambahan tugas yang akan diberikan ke peserta. Bahkan saat mengajar berlangsung saya sempatkan juga (biasanya ketika ngasih tugas, sambil nunggu mereka kelar).

Sebagai pengajar mesti sabar, terutama menghadapi orang-orang bebel dan ngeyel. Saya bisa menilai peserta juga dan cara menangani mereka. Tapi ada peserta yang saya merasa ga tau cara menangani dia itu harus gimana, karena mindsetnya dia. Dia ingin langsung membuat sesuatu yang wah, padahal yang dasar aja dia belum kuat pemahamannya dan ngeyel (udah berapa kali ngulangi penjelasan secara personal).

Untuk kedepannya, saya meyakini mengajarkan pola pikir (logika) dan pemecahan masalah (algoritma) lebih utama sebelum mengajarkan bahasa program. Karena memang itulah konstruksi dasar dari bahasa program manapun.

Sertifikat mengajar

--

--

abdul fattah ikhsan

If I am immortal, I will spend my time to learn everything in the universe.